Indonesia dan Mediasi Konflik Arab Saudi-Iran

Indonesia dan Mediasi Konflik Arab Saudi-Iran

0

Pemerintah Indonesia pada akhirnya mengambil keputusan untuk memainkan peranan mediasi—mencoba memisahkan Arab Saudi serta Iran dalam perseteruan yang selalu memanas. Presiden Joko Widodo memberikan tugas Menteri Luar Negeri Retno LP Marsudi, Selasa (12/1/2015) ini, untuk mengemukakan surat spesial pada Raja Arab Saudi Salman bin Abdulaziz al-Saud serta Presiden Iran Hassan Rouhani. Presiden Jokowi menyebutkan, pengiriman utusan spesial (special envoy) memberikan keseriusan Indonesia menunjang meredakan kemelut pada Arab Saudi serta Iran. Apakah usaha mediasi itu sukses atau tidak berhasil, terang banyak perihal yang buat perseteruan Arab Saudi-Iran tidak gampang dikerjakan.

Yang tentu, pengambilan gagasan untuk memediasi perseteruan yang semakin mencapai puncak diantara ke-2 negara adalah langkah yang sepatutnya dikerjakan Indonesia. Sepanjang satu tahun lebih pemerintahan Jokowi-Kalla, banyak kelompok diplomatik serta pengamat politik luar negeri merisaukan kecenderungan surutnya aktivisme serta peranan Indonesia di kancah politik internasional. Indonesia dibawah pemerintah saat ini mereka nilai relatif berlaku lebih bertujuan dalam (inward looking), tak kan banyak lihat ke luar (outward looking) dengan mengutamakan keterlibatan serta peranan Indonesia turut membuat tatanan internasional lebih damai serta lebih adil. Menlu Retno menyanggah assessment itu.

Ia menyebutkan, kebijakan luar negeri Indonesia saat ini dapat dimaksud pro-people foreign policy—memprioritaskan perlindungan untuk WNI yang bekerja jadi buruh migran diluar negeri. Retno menyanggah kebijakan ini dimotivasi narrow nationalism atau selfserving interest—nasionalisme streaming trans 7 sempit manfaat melayani sendiri dengan meremehkan kebutuhan internasional lebih luas. Indonesia tetaplah asertif dalam politik luar negerinya. Ketika sama, perhatian serta daya Presiden Jokowi terlalu fokus pada konsolidasi pemerintah supaya bisa percepat pembangunan. Tetapi, kontestasi serta kegaduhan politik yang selalu berlanjut tersisa hanya sedikit ruangan untuk Presiden untuk juga menambah peranan Indonesia di kancah internasional.

Penilaian atas kecenderungan pribadi Presiden Jokowi itu, umpamanya, dikemukakan Lowy Institute for International Policy, instansi think tank Australia. Sejak masa awal pemerintahan Presiden Jokowi, Lowy Institute dalam penelitian tulisan Aaron L Connelly (Oktober 2014) menyebutkan, Jokowi tidak mempunyai visi kuat serta solid berkenaan tempat serta tempat Indonesia di kancah internasional. Jokowi juga tidak mempunyai semangat spesial yang bernyala-nyala (passion) dalam perihal ini.

Dalam konteks itu, ketentuan Presiden Jokowi kirim utusan spesial dalam usaha meredakan kemelut pada Arab Saudi serta Iran— ” musuh bebuyutan ” mulai sejak awal dasawarsa 1980-an—patut memperoleh animo serta support. Kebijakan ini bisa jadi momentum untuk Indonesia—dalam arti jalinan internasional—to punch its weight, ” memukul “, atau memainkan peranan sesuai sama bobotnya (yang besar). Indonesia memanglah belum juga jadi negara adidaya sekelas Amerika Serikat atau saat ini juga Tiongkok.

Tetapi, Indonesia dengan Jepang, Korea Selatan, serta India sudah disadari banyak negara beda serta beberapa analis jadi middle power, kemampuan menengah, yang mempunyai peranan mutlak jadi ” pengimbang ” di dalam persaingan perebutan semakin bertambah diantara AS bersama sekutunya serta Tiongkok (serta Rusia) dengan negara pendukungnya (Melissen & Sohn, eds, Understanding Public Diplomacy in East Asia : Middle Powers in a Troubled Region, 2015). Tidak kurang mutlaknya, negara kemampuan menengah mempunyai tempat strategis jadi kemampuan penengah atau mediator perseteruan yang berlangsung diantara negara-negara khusus di tingkat regional, apakah di lokasi Asia Pasifik, Asia Selatan, maupun di Timur Tengah—seperti saat ini tengah membara pada Arab Saudi serta Iran.

Sejauh menyangkut perseteruan Arab Saudi versi Iran, Indonesia jadi middle power mempunyai ” kelebihan ” serta leverage (daya tekan) lebih dibanding kemampuan adidaya seperti AS atau Uni Eropa atau Tiongkok atau negara kemampuan menengah beda. Demikian sebaliknya, Indonesia semakin dapat di terima untuk ke-2 pihak bertikai karna beberapa argumen. Pertama, Indonesia adalah negara netral yang terkait baik dengan Arab Saudi serta Iran sekalian. Tetapi, Indonesia tidak mempunyai kebutuhan geostrategis serta politis di lokasi Timur Tengah yang selalu bergolak. Ke-2, Indonesia merupakan negara berpenduduk Muslim paling besar didunia serta sekalian negara demokrasi paling besar ke-3 didunia.

Dengan tingkat akseptasi semakin besar, supaya sukses dalam wujudkan peranan mediasi internasional, Pemerintah Republik Indonesia butuh melibatkan banyak pihak dalam diplomasinya. Kemlu tetaplah jadi lokus paling utama, tapi butuh keterlibatan umum Indonesia lebih luas menggalang diplomasi umum jadi keseluruhan diplomacy.

nengmirna asked
    ×

    Login

    Question stats

    • Active
    • Views58 times
    • Answers0 answers
    • Followers1 follower
    Loading...